Pentingnya Bangun Pagi
Mendung
Delapan hari sudah berlalu untuk tahun 2021 ini. Sabtu pagi yang diawali dengan rintik hujan dikala lapar melanda. Semangat ku untuk mengerjakan kegiatan mingguan harus tertunda karena jatuhnya air dari langit.
Tak punya payung karena tertinggal di transportasi umum. Bukannya tak mau kuambil di bagian layanan 'ditemukan-kehilangan', hanya saja barang itu seperti bukan sahabat yang penting lagi. Lagipula, kulit pada betis ku ini terlalu malas untuk terkena cipratan air jalanan.
Sepertinya selalu seperti ini disaat pagi ketika belum sarapan dan ingin sarapan tapi tak bisa. Bukan karena tidak ada uang. Lagi-lagi karena hujan. Tubuhku yang sedang merasa malas, enggan berada di luar terpapar dinginnya udara disaat hujan. Lambung ku berteriak, "Lapar!! Lapar!!".
Sembari menunggu hujan berhenti, kedua tangan dan kaki bergerak membuatkan kopi hangat untuk menenangkan lambung sejenak. Sang pemikir yang merasa ingin produktif agar tidak tumpul, memberikan perintah pada kaki tangannya, "Ayo kita harus bermain catur lagi!!".
"Wauw, pagi ini semuanya begitu bersemangat.", kata jari telunjuk kanan sambil menggaruk kulit gatal di dekat mata kanan.
"Haa? Semangat dari mana. Ini bukan semangat, tapi kelalaian sang pemikir yang seharusnya bisa sedia payung sebelum hujan.", balas kedua mata dengan kesal.
"Sudah, sudah. Tenang lah, semua ini akan berlalu. Jangan dilihat dari sisi buruknya. Rasa lapar ini apabila dilihat dari sisi positifnya bisa sebagai pelajaran melatih diri. Dengan merasakan rasa lapar, kita semua berusaha untuk menenangkan diri, menahan keinginan berlebih, menyadari bahwa hidup ini memang apa adanya dan... bla.. bla.. bla..", ceramah sang pemikir dengan kata-kata manisnya.
"Iya terserah kau saja lah. Belum tau saja kau rasanya memiliki cairan yang sebenarnya membahayakan dirimu bila tak diberi asupan.", jawab lambung.
Tetesan hujan masih jatuh dan sepertinya mulai mereda. Suara yang dikeluarkan akibat benturan air hujan dengan atap garasi menjadi petanda seberapa derasnya hujan memberikan sinyal kepada si kembar pendengar tanpa mata.
"Hei!! Hei!! Sepertinya hujan akan segera berhenti, ku dengar rintik-rintik hujan mulai terpatah patah. Seharusnya sebentar lagi kita dapat kembali beraktifitas. Terutama memberikan asupan pada si lambung.", tutur telinga kembar kepada seluruh bagian tubuh.
"Ahh, baiklah, kalau begitu biarkan kami bersandar dahulu. Sedih sekali tubuh ini tidak memiliki senderan yang baik untuk menopang kami semua", balas barisan tulang punggung.
"Dengan begitu, mari kita akhiri percakapan kita semua", ketik terakhir jari jemari.
-tamat-
Komentar
Posting Komentar